Arkom Indonesia Dampingi Penyintas Gempa Palu Bangun Huntap Relokasi Mandiri

261 dilihat

Ditulis oleh

Dua tahun sudah peristiwa gempa, tsunami dan likuifaksi berlalu. Penyintas di Kota Palu masih berusaha bangkit berjibaku menyelesaikan hunian tetap (huntap). Dan mereka mendapatkan bantuan berharga dari Yayasan Arsitek Komunitas atau Arkom Indonesia.

Emilia (36) salah satunya. Mereka tak sendiri mengerjakan pembangunan huntap melainkan didampingi Arkom mulai dari perencanaan hingga pembangunan hunian dengan pendekatan partisipatif.

Emilia bersama suaminya dan para pekerja dari Kelurahan Mamboro saat ditemui pada Sabtu sore, (26/9/2020), sedang sibuk menyelesaikan pembangunan huntap mereka di Kelurahan Mamboro Barat.

Mereka ingin secepat mungkin hunian tetap selesai dibangun agar mereka bisa memiliki tempat tinggal yang layak seperti sediakala. Mereka mulai membangun huntap pada awal Februari 2020.

Penyintas di Mamboro memilih relokasi mandiri demi tetap dekat dengan sumber ekonomi mereka yaitu laut. Uniknya lahan relokasi itu dibeli warga secara berkelompok dengan cara patungan.

Lokasi relokasi yang dipilih warga berada sekitar 200 meter arah timur dari pantai Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu. Sebanyak 39 kepala keluarga dari Kelurahan Mamboro Barat. Dua tahun silam tempat tinggal mereka merupakan lokasi terparah diterjang tsunami.

Penyintas di daerah ini mendirikan hunian tetapnya di lokasi seluas 5.000 meter per segi setelah Pemerintah Kota Palu dan pihak PUPR merestui skema relokasi mandiri yang digagas warga.

Di lokasi itu, telah berdiri 10 rumah panggung dan 29 rumah tapak dengan model Rumah Instan Sederhana dan Aman (RISHA) dan konvensional untuk memastikan bangunan-bangunan itu tahan gempa.

“Saya dan puluhan warga lainnya memilih relokasi mandiri lantaran tidak bisa jauh dari laut yang menjadi sumber ekonomi kami yang sebagian besar sebagai nelayan dan penjemur ikan,” kata Emilia.

Meskipun pemerintah telah menyiapkan hunian tetap di Kelurahan Tondo sekitar 5 kilometer dari permukiman mereka bersikukuh tidak ingin jauh dari laut. Karena laut adalah satu-satunya harapan mereka untuk terus hidup.

Hasilnya rumah-rumah di lokasi itu sebagian bergaya panggung khas hunian warga pesisir. Masing-masing rumah dicat berbeda oleh pemiliknya yang menjadikan kompleks hunian itu berwarna-warni yang menyimbolkan keberagaman.

Dengan skema itu warga dipercaya oleh BPBD Kota Palu mengelola dana stimulan pembangunan rumah yang menjadi hak mereka namun dengan konsep dan penataan kawasan berdasarkan rancangan warga yang difasilitasi Arkom Indonesia.

Kepala BPBD Palu, Singgih Prasetyo yang ditemui Senin, 28 September 2020 mengatakan, relokasi mandiri di Mamboro adalah kerja sama warga yang difasilitasi Arkom Indonesia dan BPBD Palu. Dengan skema itu warga di sana bisa menggunakan dana stimulan untuk pembangunan.

Sementara itu, Direktur Yayasan Arkom Indonesia, Yuli Kusworo mengatakan, berdirinya huntap bagi penyintas di Kelurahan Mamboro itu, adalah bukti berdayanya warga dalam upaya rehabilitasi dan rekontruksi pascabencana secara mandiri.

“Pendampingan terhadap warga dilakukan Arkom sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan untuk mendorong warga mencari solusi alternatif dari kebijakan pemerintah yang saat itu kami nilai belum memenuhi kebutuhan penyintas di pesisir, terutama pascaterbitnya larangan membangun di kawasan pesisir Palu pascatsunami sejauh 100 meter dari garis pantai,” jelas Yuli, Sabtu, (26/9/2020).

Menurut Yuli, warga di kawasan itu juga mendapat pengetahuan mulai dari pengelolaan kawasan berbasis mitigasi bencana hingga membangun rumah tahan gempa dengan model RISHA yang sesuai dengan harapan warga.

“Bahkan panel-panel RISHA untuk hunian di lokasi huntap mandiri di Mamboro itu adalah buatan warga sendiri setelah mendapat pelatihan dari Arkom Indonesia,” ucap Yuli.

Hal demikian, kata dia, sebagai bukti masyarakat sebenarnya punya kemampuan untuk bangkit dan berpartisipasi. Kuncinya ada dipendampingan untuk peningkatan kapasitas penyintas.

“Skema relokasi mandiri menjadi harapan bagi warga di kawasan mamboro untuk membangun kehidupannya tanpa menghilangkan kearifan lokal dan budayanya. Model relokasi serupa juga dapat jadi contoh bagi kawasan lain di pesisir yang terdampak bencana di Sulteng,” terangnya.

Dari kisah Emilia dan penyintas di Kota Palu lainnya membuktikan bahwa bencana bukan berarti memupus harapan dan masa depan para penyintas. Berkat kolaborasi pendampingan Arkom Indonesia dan pemerintah setempat mereka bisa menatap masa depan yang lebih baik serta mendapatkan rumah yang mereka impikan. (*)

Sumber: Times Indonesia

Tinggalkan Komentar