Huntap Pombewe Belum Terisi Semua

84 dilihat

Ditulis oleh

Hunian Tetap (Huntap) di Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah sampai saat ini belum sepenuhnya terisi.

Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi mengatakan, sebelumnya memang listrik di wilayah Huntap tersebut masih terkendala.

“Itu listrik sudah dibayar ke PLN, kira-kira apa tindakan kita untuk proses percepatan ini, yang jelas pihak PUPR melalui BPPW sudah bayar lunas listrik,” ungkap Wabup Sigi.

Dia menjelaskan, Bupati sudah menyetujui untuk segera masyarakat menempati huntap.

“Ini hanya sisa menunggu SK Bupatinya,” ujarnya.

Mantan Sekcam Kulawi Selatan itu menyebutkan, sekitar 190 unit huntap terbangun di Pombewe padahal sudah siap.

“Target bangunan itu 1.500 unit, sepanjang masih dibutuhkan,” sebut Samuel.

Ia merincikan, saat ini huntap terbangun di Pombewe 500 unit dari Yayasan Buddha Tzu Chi tambah 72 Mayapada, dan 400 PUPR.

“Itu belum semua ditinggali khususnya yang dari PUPR,” jelasnya.

Suka Duka Penyintas di Huntap Pombewe, Air Bersih dan Listrik jadi Dambaan

Tiga tahun berlalu, ratusan kepala keluarga terdampak gempa dan likuefaksi sudah pindah ke Hunian Tetap (Huntap) Pombewe, Sigi, Senin (11/10/2021) sore.

Satu di antara penyintas itu adalah Nyono, warga Desa Sidera Sigi yang kehilangan rumahnya saat bencana alam 28 September 2018 silam.

Nyono mengatakan, baru menempati huntap di Pombewe Sigi belum genap satu bulan.

Saat ini dirinya bersama penyintas lainnya asal Desa Sidera hidup berdampingan di blok yang sama di Huntap tersebut.

Nyono yang akrab disapa Pakde itu menjelaskan, dirinya bersama penyintas lainnya diizinkan menempati huntap disebabkan adanya desakan dari masyarakat yang masih tinggal di huntara.

“Desakan dari orang-orang yang di huntara dan meminta agar segera diizinkan masuk ke Huntap, jadi masyarakat yang di huntara boleh menempati huntap dengan fasilitas apa adanya dulu,” ungkap Nyono.

Pakde Nyono juga menyebutkan, kebutuhan utama saat ini di huntap adalah air dan listrik.

“Fasilitas paling pokok itu adalah listrik dan air,” tuturnya.

Untuk air dipasok dengan melalui tandon yang sudah ada di masing-masing huntap.

Menurutnya, masing-masing huntap khususnya hunian tetap milik Kementerian PUPR diberikan satu tandon air.

Tandon tersebut di isi oleh setiap 2 kali sehari.

Nyono menyebutkan, dirinya dan penghuni Huntap milik Kementerian PUPR lainnya mendapatkan tandon air karena keadaaan darurat seperti fasilitas air belum sepenuhnya sempurna.

“untuk air itu dipasok selang satu hari,” katanya.

Ia mengatakan, sudah ingin menyambung huntapnya dengan membuat dapur namun hal itu belum diizinkan Pemerintah.

“Belum diizinkan bangun dapur permanen, karena masih akan ada pembangunan lainnya, tapi kalau cuma bangun dapur sementara diperbolehkan,” sebutnya.

Pantauan TribunPalu.com, bangunan huntap milik Kementerian PUPR hanya diplester bagian depan, sementara bagian kiri dan kanan serta belakang huntap dibiarkan susunan batako terlihat.

Dalam satu huntap ada dua kamar tidur, satu toilet dan ruang keluarga.

Kondisi lantai huntap pun dibuat licin.

Beberapa dari penyintas melapisi lantainya dengan tikar.

Selain itu, akibat tidak adanya dapur di masing-masing huntap membuat penghuninya menggantung belanga dan alat masaknya di luar rumah.

Hingga saat ini, sejumlah pekerjaan masih terus berlangsung di huntap tersebut.

Sumber: Tribun Palu

Tinggalkan Komentar