Lahan Masih Jadi Kendala Pembangunan Huntap di Palu

44 dilihat

Ditulis oleh

Pemerintah mengakui masalah lahan menjadi kendala dalam percepatan proses pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat yang terkena dampak dari bencana alam di Kota Palu, Provinsi Sulteng pada September 2018 lalu.

Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin mengatakan, rapat koordinasi ini dilaksanakan untuk mencari solusi penyelesaian masalah perumahan hunian tetap, terutama di kawasan Tondo 2.

“Karena ini sudah cukup lama, kami merasa perlu untuk segera diselesaikan dan untuk menghilangkan berbagai hambatan yang terjadi khususnya soal ketersediaan lahan yang tidak bermasalah,” kata Wapres, dalam siaran pers, Minggu (9/1/2022) saat memimpin rapat percepatan Pemulihan dan peninjauan lokasi pasca bencana alam di kota Palu, provinsi Sulteng.

Berdasarkan keputusan gubernur Sulteng tanggal 28 Desember 2018, ditetapkan lokasi huntap berada di Kota Palu seluas 560,93 hektar (ha) dan di kabupaten Sigi seluas 362 ha, dengan total seluas 922,93 ha.

Dari luasan penetapan lokasi tersebut, yang baru diserahkan ke pemerintah daerah (pemda) tersebar di 5 lokasi relokasi pemulihan bencana dengan total seluas 297,4 ha, yaitu Tondo 1 (45 ha) dan Tondo 2 (65,3 ha), Duyu (36,3 ha), Pombewe (104 ha) dan Talise (46,8 ha).

Selain huntap relokasi, kawasan tersebut dilengkapi dengan infrastruktur permukiman dan pendukung lainnya.

Kawasan Huntap Tondo 2 adalah kawasan hunian yang akan dibangun oleh Kementerian PUPR bersamaan dengan huntap Talise.

Rencananya pada kawasan tersebut akan dibangun 1.102 unit hunian sedangkan untuk Talise 685 unit hunian. Pada kedua lokasi tersebut akan dibangun jalan dan drainase, ruang terbuka hijau, penerangan jalan umum (PJU), persampahan dengan metode TPS3R, sistem pengolahan air limbah domestik terpadu (SPALD-T), pengadaan tempat sampah serta pembangunan sistem pengolahan air minum (SPAM) dalam mendukung penyediaan air di huntap Tondo 1, 2 dan Talise.

Wamen PUPR John Wempi mengatakan, pembangunan huntap di Tondo 2 yang sedianya dilaksanakan pada tahun 2021, saat ini masih dalam proses penyediaan lahan.

“Kami mohon pada pemerintah daerah untuk memediasi warga terkait clearing lahan di Tondo 2. Tadi Wapres mengatakan kalau tidak clear sampai akhir Februari 2022, maka pembangunannya akan dialihkan di Pombewe,” kata John Wempi.

Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR di Sulteng Arie Setiadi Moerwanto menjelaskan, apabila pemerintah kota (pemkot) Palu dapat menyelesaikan permasalahan tersebut tepat waktu, maka pembangunan dapat segera dimulai pada bulan Juni 2022.

“Apabila tanah sudah siap pada Februari 2022, maka akan dilakukan pengajuan usulan sekitar 1 bulan dan proses lelang sekitar 2 bulan untuk pembangunan huntap dan prasarana wilayahnya. Dengan demikian pekerjaan konstruksi dapat dimulai pada Juni 2022 dan ditargetkan pekerjaan dilaksanakan selama 1 tahun,” tutur Arie.

Di kawasan Pombewe, saat ini tengah dilakukan penyelesaian pembangunan 1.177 huntap dan infrastruktur permukimannya. Sebanyak 605 unit huntap dibangun oleh PUPR, 500 unit oleh Yayasan Budha Tzu Chi (YBTC) dan 72 unit oleh Pemprov Sulteng. Ditargetkan pembangunan selesai pada Maret 2022.

Di kawasan Duyu dan Tondo 1 sebanyak 1.841 unit huntap telah selesai dibangun. Di kawasan Duyu, telah selesai dibangun 230 unit huntap beserta untilitasnya oleh Kementerian PUPR. Di Tondo 1, telah selesai dibangun 1.611 unit huntap oleh YBTC, AHA Center dan Apeksi.

Sementara infrastruktur permukimannya dibangun oleh Kementerian PUPR yang meliputi jalan dan drainase lingkungan, reservoir 300 m3, perbaikan distribusi eksisting PDAM Kota Palu, 1.600 unit sambungan rumah, 2 unit sumur dalam, persampahan TPS3R, penyediaan mobil sampah 6 m3 kontainer terbuka, tempat sampah two in one serta motor pengangkut sampah tiga roda.

Selain pada 5 kawasan yang ditetapkan Gubernur Sulteng tersebut, Kementerian PUPR juga melaksanakan pembangunan huntap yang tersebar di 14 lokasi berdasarkan SK Penetapan Lokasi Huntap oleh Walikota Palu. Di Kabupaten Sigi sebanyak 330 unit tersebar di Salua 63 unit, Lambara 66 unit dan Pombewe 205 unit.

Di Kabupaten Donggala sebanyak 621 unit tersebar di Lompio 282 unit, Ganti 82 unit, Tanjung Padang 1, 2 dan 3 dengan total  123 unit, Wani Lumbumpetigo 48 unit, Loli Tasiburi 1 dan 2 sebanyak 59 unit dan Loli Dondo 37 unit.  Di Kota Palu sebanyak 98 unit tersebar di Balaroa 52 unit dan Lokasi Mandiri 46 unit. Saat ini progres keseluruhannya telah mencapai 70,2% dan ditargetkan selesai pada Mei 2022.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber: Investor.co.id

Tinggalkan Komentar